Cara Mengatasi Writer’s Block
Materi ke-7
pelatihanan Belajar Menulis PGRI Gelombang Ke-27 disampaikan oleh Narasumber
Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd. Gr., dan dimoderatori oleh Ibu Raliyanti. Materi
ke-7 ini bertema “Cara Mengatasai Writer’s Block” disampaikan pada tanggal 5
September 2022 mulai pukul 19.00-21.00 WIB.
Bu Ditta ini
ternyata alumni pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang Ke-7. Beliau bekerja
sebagai seorang guru IPA SMP di Kab. Subang Provinsi Jawa Barat. Bu Ditta termasuk
guru yang produktif dalam menulis. Sampai saat ini beliau telah menulis 6 buku
solo, 13 buku antologi. Berkat rajin menulis, Bu Ditta telah beberapa kali
memperoleh penghargaan, baik di bidang sastra/literasi maupun sebagai pendidik
berprestasi di daerahnya.
Dalam
paparannya Bu Ditta menjelaskan bahwa writer’s block adalah suatu keadaan
dimana penulis merasa kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan sama
sekali gagasan untuk dicurahkan ke dalam tulisan. Orang yang sedang mengalami
writer’s block merasakan seolah-olah semua ide lenyap, tangan terasa kaku untuk
menulis, dan otak tak mampu berpikir untuk menemukan ide baru untuk ditulis. Tanda-tanda
seseorang sedang mengalami writer’s block adalah: (1) menulis jauh lebih lambat
dari biasanya; (2) merasa stress dan frustrasi dalam menulis; (3) tidak bisa
memaksakan diri untuk menulis.
Writer’s
block bisa menimpa siapa saja, baik penulis pemula, maupun penulis yang sudah
mahir, bahkan penulis professional sekali pun. Hal ini karena writer’s block
tidak ada hubungannya dengan kemampuan atau banyaknya pengalaman menulis
seseorang. Juga tidak ada hubungannya dengan komitmen seseorang dalam menulis.
Orang yang memiliki komitmen yang kuat untuk menulis pun bisa terserang
writer’s block ini.
Writer’s
block bisa menyerang kapan saja, bisa pada saat mau menulis, kegiatan awal,
tengah, dan akhir menulis. Pada saat mau menulis orang yang terkena writer’s
block merasa tidak memiliki ide apapun untuk ditulis. Jika menyerang pada
kegiatan awal dan tengah menulis, penulis tidak bisa memiliki ide untuk
melanjutkan tulisan. Sedangkan jika menyerang pada kegiatan akhir menulis,
penulis tidak tahu bagaimana cara mengakhiri tulisan agar sesuai dengan bagian
awal dan tengahnya, dan berkesan bagi pembaca. Jadi bisa disimpulkan writer’s
block ini bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Hal yang terpenting bagi
penulis ketika terserang writer’s block adalah cepat sadar dan segera
menyingkirkan writer’s block ini. Jika
dibiarkan, writer’s block ini bisa melekat selama berhari-hari, berminggu-minggu,
bahkan berbulan-bulan, sehingga diperlukan upaya segera untuk mengatasi
writer’s block ini.
Cara terbaik
untuk mengatasi writer’s block adalah dengan mengetahui penyebabnya. Dengan
mengetahui penyebabnya kita akan mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi
masalah ini berdasarkan penyebabnya itu. Berikut adalah penyebab writer’s
block dan solusi untuk mengatasinya.
1. Mencoba topik/metode baru
Topik yang baru, apalagi belum dikenal sama
sekali bisa menyebabkan penulis terkena writer’s block karena
pengetahuan/wawasan tentang topik yang akan ditulis sangat terbatas. Metode
baru yang pertama kali digunakan oleh penulis pun bisa mengakibatkan writer’s
block karena penulis akan merasa “canggung” sebagai akibat tidak pernah
memiliki pengalaman menggunakan metode tersebut sebelumnya.
Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi
writer’s block adalah dengan mempelajari teknik dan sering berlatih menulis,
dan banyak membaca literatur tentang topik yang ditulis, sehingga bisa memperkaya
khazanah pengetahuan atau informasi. Dengan mempelajari berbagai teknik dan
menerapkannya dalam menulis, ditambah dengan sering menulis akan membuat
penulis lebih mudah menulis dengan teknik atau metode yang berbeda dari
biasanya karena memiliki pengetahuan tentang teknik atau metode menulis
tersebut sebelumnya. Dengan banyak membaca literatur akan memperkaya
pengetahuan atau informasi sehingga penulis memiliki banyak bahan untuk ditulis
sehingga writer’s block bisa dihindari.
1. Mengalami stres
Orang yang sedang mengalami stress tidak akan
memiliki ide apapun untuk ditulis karena jiwa dan pikirannya sedang tertekan
oleh suatu masalah. Orang yang stress akan kehilangan hasrat untuk menulis,
bahkan hal yang sangat penting pun seperti makan atau tidur tidak bisa
dilakukan sebagai akibat ketegangan psikis yang sangat kuat.
Cara untuk mengatasinya adalah dengan
melakukan self healing (penyembuhan diri) dengan melakukan hal-hal yang
menyenangkan seperti berekreasi atau mengerjakan hobi. Yang harus diperhatikan
adalah kita jangan berlama-lama dalam mengerjakan hal yang menyenangkan hati
tersebut. Ketika hati sudah tenang atau stress sudah hilang kegiatan menulis
harus segera dilanjutkan kembali. Cara lain bisa dengan melakukan penulisan
ekspresif, suatu kegiatan menulis yang bisa menyenangkan hati penulisnya. Dengan
menulis ekspresif penulis akan mencurahkan semua perasaan ke dalam tulisan
sehingga beban yang ada di pikiran akan berkurang, sehingga hal ini akan
menghilangkan stress yang dialami. Ketika stress sudah berkurang atau hilang, kegiatan
menulis bisa dilanjutkan.
2. Perfeksionis
Menginginkan hasil tulisan yang baik harus
dimiliki oleh setiap penulis. Adalah hal yang wajar jika seorang penulis
menginginkan hasil tulisannya langsung baik dan disukai semua orang. Yang tidak
wajar adalah menginginkan hasil tulisannya baik tanpa kekurangan sedikit pun
atau sempurna. Hal ini karena bagaimana pun mahirnya seorang penulis pasti tulisannya
ada kekurangan, buktinya kita sering menjumpai buku revisi atau buku cetak
ulang yang edisi terbaru telah diperbaiki sebagai akibat adanya kekurangan pada
buku edisi sebelumnya. Menginginkan hasil tulisan sempurna tanpa kekurangan
apapun adalah suatu hal yang tidak realistis atau utopis belaka. Hal ini bisa
mengakibatkan orang mengalami kebuntuan dalam menulis atau terkena writer’s
block, sehingga harus dihindari. Yang bisa dilakukan oleh penulis hanya
berusaha agar tulisannya baik, dan jika ada kekurangan maka diadakan revisi. Merevisi
tulisan merupakan kegiatan yang tidak dibatasi frekuensinya, seorang penulis
bisa merevisi tulisan kapan pun dan berapa kali pun sesuai yang diinginkan atau
diperlukan.
Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi
masalah ini adalah bersikap realistis dan berlapang dada terhadap apapun hasil
tulisan setelah sebelumnya telah berusaha untuk menulis yang baik dan telah
melakukan upaya perbaikan. Ketika tulisan yang sudah dirasakan baik oleh
penulisnya maka ketika ada yang mengkritik tulisan tersebut maka sikap penulis
harus menerima dengan ikhlas dan dilanjutkan dengan melakukan evaluasi terhadap
tulisan yang dibuat kemudian melakukan revisi tulisannya.
Kesimpulan dari paparan di atas, writer’s block bisa dialami kapan saja dan siapa saja baik penulis pemula maupun penulis professional, baik sebelum menulis, proses awal, tengah, dan akhir menulis. Cara terbaik untuk mengatasi writer’s block adalah dengan mengetahui penyebab writer’s block ini, dilanjutkan dengan menentukan solusi berdasarkan penyebabnya, kemudian menerapkan solusi tersebut.

Mantep..
ReplyDelete