Belajar Menulis (Lagi)
Pada hari ini, Senin tanggal 22 Agustus 2022 saya mencoba kembali belajar menulis. Belajar menulis kembali ini dipicu oleh seorang teman yang aktif di organisasi profesi pusat yang mengajak saya untuk aktif kembali menulis dan menerbitkan buku. Di samping itu sebagai seorang guru ingin terus mengembang profesionalisme dengan menghasilkan karya tulis, dimana karya tulis yang dihasilkan dapat digunakan untuk kenaikan pangkat/golongan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Sebenarnya, sebelumnya saya memiliki
pengalaman dalam menulis walaupun tidak banyak, tetapi karena saya lama vakum
kegiatan menulis maka saya kembali mengalami kesulitan dalam memulai menulis. Tahun
2017 dan 2018 saya telah menulis sebuah karya ilmiah untuk seminar nasional
guru pendidikan dasar dan diterbitkan pada prosiding Ditjen GTK Kemdikbud. Pada
tahun 2018 pula saya telah berhasil menulis cerita untuk anak dan
menerbitkannya menjadi sebuah buku ber-ISBN. Oleh karena itu kegiatan menulis
bukan sesuatu yang asing bagi saya karena pernah melakukannya.
Menulis merupakan kegiatan yang harus
dilakukan secara kontinyu. Menulis setiap hari walaupun satu kalimat tentu jauh
lebih baik dari pada lama berhenti menulis kemudian aktif menulis lagi. Berhenti
menulis walaupun sebentar bisa menyebabkan “gagap” kembali dalam menulis
seperti yang sedang saya alami saat ini.
Kegagapan yang dialami karena bingung mengenai materi apa yang hendak
ditulis. Tetapi saya meyakini kegagapan ini akan hilang seiring berjalannya
waktu yang saya gunakan untuk kembali menulis.
“Pada
suatu hari” kata inilah yang harus pertama dituliskan ketika kita belajar
menulis. Tips ini saya dapatkan dari orang-rang yang pandai atau memiliki
pengalaman luas dalam menulis. Terkesan konyol memang tips itu, tetapi saya
dapat memahami makna yang tersirat dari tips tersebut. Tips ini menyiratkan bahwa
dalam belajar menulis harus dimulai dengan menuliskan hal-hal yang ringan dan
dekat dalam kehidupan seperti pengalaman sehari-hari, pekerjaan, keluarga, atau
sahabat.
Menulis itu sulit, seperti itulah ungkapan
yang sering saya dengar dari kebanyakan orang. Saya setuju dengan ungkapan ini.
Menulis itu mudah kata sebagian orang yang lain. Saya pun setuju dengan
ungkapan tersebut. Seperti plin-plan memang tapi itulah pendapat saya. Saya
memahami mengapa orang-orang mengungkapkan seperti itu. Tulisan itu harus sempurna,
yaitu baik dari segi ejaan, struktur kalimat, tanda baca, diksi, sesuai antara
judul dan tulisan, kebahasaan, menarik, dan disukai pembaca adalah penyebab
orang-orang mengucapkan bahwa menulis itu sulit. Sedangkan orang yang
menganggap menulis itu mudah karena memiliki alasan bahwa menulis itu bisa
dimulai dari hal-hal yang ringan dan dekat dengan kehidupan seperti menulis
cerita harian yang dialami dari bangun tidur sampai tidur kembali. Soal apakah tulisan itu baik dari kriteria
tulisan yang baik seperti yang disebutkan di atas dan disukai pembaca adalah
nomor 2. Demikianlah penyebab mengapa sebagian orang menganggap menulis itu
mudah atau setidaknya tidak terlalu sulit. Lalu bagaiamana kesimpulannya menulis
itu apakah mudah atau sulit? Saya bersikap moderat dalam hal ini.
Menulis itu mudah bagi orang yang terbiasa dan
menggeluti dunia menulis. Menulis itu sulit bagi orang yang tidak pernah atau
tidak terbiasa menulis. Di samping itu dalam menulis kita tidak bisa asal
menulis tanpa memperhatikan kaidah tulisan yang baik. Bagaimana pun bahasa tulisan
itu berbeda dengan bahasa lisan sehingga kaidah tulisan yang baik tidak bisa
diabaikan sama sekali.
Bagaiamana pun bersikap positif dengan
menganggap menulis itu mudah jauh lebih baik daripada menganggap menulis itu
sulit. Menganggap menulis itu mudah dapat memicu dan memacu semangat untuk
menulis. Ketika seseorang telah mampu menulis dan menghasilkan karya tulis, dan
karya tulisnya dibaca oleh orang lain ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan oleh
dirinya. Apatah lagi bagi para guru, kegiatan menulis ini sangat bermanfaat
bagi pengembangan profesinya sehingga berhak untuk naik tingkat atau golongan
bagi guru yang berstatus ASN.
“Menulislah setiap hari dan rasakan
manfaatnya”, ungkapan ini saya pernah membacanya dalam sebuah tulisan oleh Om
Jay (Wijaya Kusumah). Saya setuju dengan ungkapan ini. Dengan menulis setiap
hari membuat diri terbiasa menulis sehingga menulis akan terasa lebih mudah dan
tidak akan dihinggapi penyakit “gagap” menulis. Menulis setiap hari tentu lebih
produktif dari pada lebih jarang menulis seperti seminggu sekali misalnya.
Dengan menulis setiap hari kita akan lebih cepat menghasilkan tulisan untuk
diterbitkan menjadi buku.
Bagaimanakah caranya agar kita bisa menulis setiap
hari? Tentu jawaban dari pertanyaan ini mudah saja dan kita ketahui yaitu
dengan memanfaatkan waktu harian kita dengan sebaik-baiknya. Kita bisa
memanfaatkan waktu senggang sehari-hari untuk kegiatan menulis. Waktu senggang
yang bisa kita manfaatkan untuk menulis adalah sebelum tidur, dalam perjalanan,
menunggu antrian, sepulang kerja, dan lain sebagainya. Perangkat yang digunakan
pun bisa menggunakan computer/laptop, ipad, tablet, atau handphone. Jadi
kegiatan menulis menjadi lebih mudah dengan adanya pilihan perangkat tersebut.
Sudah hampir 800 kata yang saya ketik dalam
tulisan ini tetapi jumlah kata dalam tulisan ini tidak sampai 800 kata. Semoga
saya mampu menulis setiap hari agar lebih produktif. Semoga tulisan ini menjadi
tulisan awal yang akan diikuti oleh tulisan-tulisan berikutnya. sehingga saya
menjadi guru penulis yang istiqomah, aamiin.
.jpg)
Wah.. bisa jadi naskah antologi wb nih pak... ayo ikut gabung.. sharing pengalaman
ReplyDelete